Cari Blog Ini

Rabu, 24 Agustus 2011

SENDHON SUKESI


Bumi Alengka bergolak
Sayembara Jambumangli
Satria gagah pideksa, digdaya sura tamtaha, sakti kalintang jayaning prang
Dengan bertepuk dada menaruhkan jiwa raganya demi sang Dewi Sukesi
Ini hanyalah kedok semata karena dibalik tingkahnya ada hasrat tersembunyi mencintai keponakanya sendiri
Banyak raja mati sia-sia
Alengka bergetar , keindahanya sirna berubah kedahsyatan yg menakutkan….

Dewi Sukesi, perawan elok cantik jelita putri Prabu Sumali
Raja raksasa yg berhati manusia
Laksana bunga teratai emas ditengah lautan darah
Dia tidak rela menyerahkan keperawanya pada satria, raja, atau siapa saja dg pertumpahan darah
Ia mendambakan titah yg mampu menerjemahkan ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu…
Apakah itu ajaran kasampurnan?
Apakah itu ajaran olah asmara yg menggairahkan?

Wisrawa….seorang brahmana dari kerajaan Lokapala
Ayah Prabu Danapati raja Lokapala…
Ia berkehendak menguraikan ajaran itu demi cintanya pada sang putra yg ingin melamar sang Dewi…

Akankah jagad raya menjadi tenang dan damai dengan wedaring ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu?
Ataukah jagad raya berguncang apabila salah dalam menafsirkan dan menjalankan laku ajaran tersebut?
Sebagaimana Wisarwa dan Sukesi yang gagal menghayati Sastrajendra karena keduanya masih diselimuti hawa nafsu…
Hingga melahirkan makhluk berhati iblis…Rahwana….

Sabtu, 20 Agustus 2011

DURMO

"DURMO"
Saya Sengkut,gumregut tumandang karya,
Ngudi mrih tan kawuri,
Memetri budaya,apan iku kagunan,
Nenggih wau Seni Jawi..
...Saya ngrembaka,
Rahayu kang pinanggih.

BAIT II:
Saya Wimbuh,jumbuh kalamun ginarap,
Rinasa dadyo manis,
Katiti Katata,pangolahing paglaran,
Mrih resep kang samya myarsi,
Rumesep ndriya,
Temah datan Mboseni.
Ki Geter Pramujiwidodo
 

Senin, 15 Agustus 2011

Pangkur Patalon

PANGKUR PATALON/PALARAN
Hambuko purwaning kandha
Angleluri seni budaya jawi
Kagunan kang adi luhung
... Gumlaring Ringgit Purwo
Dadyo srana,patuladan bebrayan gung
Surodiro jayaning rat
Lebur dening pangasti

Dhandanggula SUKRA KASIH

"DHANDANG GULA"
AMURWANI,lelangen saratri
Nenggih wau caraka budaya
SUKRAKASIH kang arane
Memetri budaya gung
...Dadyo endah ingkang winardi
Gegulang pedalangan
Seni adi luhung
Mrih ambabar suko rena
Rasa mulyo,memayu hayuning nagri
SESANTI RAHAYUA"

Selasa, 12 Juli 2011

Mengenal Wayang

WAYANG salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.

Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan In donesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.
Dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang.

Asal Usul
Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.
Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.
Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.
Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.
Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indo nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur nya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In dia, Walmiki. Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 – 1160).
Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawa yang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah per tunjukan wayang.
Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehis toric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indone sia halaman 987.
Kata `wayang’ diduga berasal dari kata `wewa yangan’, yang artinya bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak. Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga belum ada.
Untuk lebih menjawakan budaya wayang, sejak awal zaman Kerajaan Majapahit diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada Kitab Ramayana dan Mahabarata. Sejak saat itulah cerita cerita Panji; yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain. Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga. Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.
Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.
Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam. Sisilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa. Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem. yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar. Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem.
Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah. Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.


Sabtu, 11 Juni 2011

Wayang dan Agama, seiring dan sejalan....

 Jagad kesenian kembali dihantui perasaan was-was, takut dan prehatin dengan kenyataan yang terjadi sat ini. Kebebasan berekspresi, bereksplorasi, dan berkreasi mengalami pembatasan-pembatasan dan hambatan yang dilakuakn oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan agama. Kebebasan yang menjadi dasar para seniman untuk menuangkan, menyuarakan dan mengkritisi keadaan disekitanya dengan balutan keindahan seni ternyata ditanggapi lain oleh sekelompok orang/organisasi yang entah karena alasan apa memprovokasi dan melarang sejumlah pentas seni. Sebagama halnya yang dialami oleh Mas Jlitheng Suparman, seniman wayang dari Solo, dengan Wayang Kampung Sebelah-nya, Dalam sebuah acara Pertunjukkan kesenian wayang yang  digagas oleh Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) “Sinar Pelangi” yang didirikan oleh Joko Kristanto warga Kampung Mojo Kelurahan Semanggi Pasar Kliwon-Solo dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan pada hari jumat tanggal 27 Mei 2011 ini didukung oleh warga Mojo RT 06 dan RT 07 RW 05, ternyata dihentikan  secara paksa oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan sebuah organisasi keagamaan tertentu. Bayang-bayang hambatan tersebut juga menghantui dan kembali dialami oleh Mas Jlitheng dengan WKS-nya yang akan pentas pada tanggal 18 Juni mendatang diindikasikan akan kembali diusik seperti pentas sebelumnya.
Ini sungguh memprihatinkan. Disaat  bangsa ini tengah berjuang mengembalikan harta dan martabatnya, akibat kemerosotan diberbagai sektor kehidupan, baik politik, ekonomi, hukum dan lainya, seni budaya, khusunya wayang,  sebagai satu-satunya aset bangsa yang masih bisa dibanggakan, ternyata nasibnya  tidak begitu menggembirakan. Keberadaannya senantiasa dicurigai oleh sekelompok anak negeri yang beranggapan negative. Dibilang musyriklah, amoral, mesum, dsb. Ini anggapan yang berlebihan. Kalau kita toleh kebelakang, sebenarnya dunia wayang mempunyai andil besar dalam penyebaran agama Islam. Siapa yang tidak tahu, bagaimana para wali dulu menyebarkan agama Islam dengan media wayang.

Sungguh ironis....wayang yang didalamnya penuh dengan ajaran moral, estetika, budi pekerti dan nilai-nilai luhur dan humanis dikatakan musyrik atau apalah. Kalau kita mau toleran dan saling memahami, sesungguhnya seni, wayang khusunya, sangatlah seiring dan sejalan dengan agama. Walau memang dalam penyajiannya kadang terselip ungkapan2 yang menjurus kasar, porno, tapi pada dasarnya itu hanyalah bumbu penyedap sebuah pementasan agar lebih menarik. Dan kalau memang ada nilai2, ungkapan2 atau idiom2 dalam pewayangan yang mungkin menyinggung atau melukai perasaan seorang atau sekelompok orang, tidak harus ditanggapi dengan sebuah tindakan anarkis,dengan membubarkan acara pementasan seperti yang dialami Mas Jlitheng. Negara kita adalah negara demokrasi, yang menjunjung tinggi perbedaan. Seharusnya perbedaan persepsi itu bisa diselesaikan dengan saling membuka wawasan, tukar pikiran dan berdialog....karena hemat saya "agama tanpa seni adalah kering.....sebaliknya seni tanpa agama bisa menjurus kemaksiatan....Sumangga!!!


Rabu, 01 Juni 2011

Juni-Juli...bulanya para Dalang

Ki Lingga
Ki Seno Nugroho


Ki Geter

Ki Sri Mulyono

Ki Suharno

Ki Utoro

Sudah menjadi tradisi pada bulan juni-juli menjadi bulan yang dinanti-nanti oleh para dalang. Baik dalang senior maupun yunior.....Bisa dikatakan bulan ini adalah bintangnya bulan bagi para dalang. Bahkan dalam satu malam di wilayah Kab. Gunungkidul pernah terjadi pementasan wayang hampir di 60 titik tempat tersebar disemua kecamatan dan desa di gunungkidul. Pada bulan2 itu di wilayah Kab. Gunungkidul di tiap dusun dan desa memang sedang ramai diadakan acara merti desa, rasulan atau sedekah bumiIni adalah tradisi turun temurun. Dan hampir mayoritas semuanya diselenggarakan dengan mengadakan pertunjukan wayang sebagai medianya......Selamat buat para dalang.......

Rabu, 25 Mei 2011

Festival Dalang Anak se-DIY 2011


Pada tanggal 24-25 Mei 2011, Dinas Kebudayaan Propinsi DIY bekerja sama denga PEPADI Komda DIY menyelenggarakan festival dalang anak se DIY bertempat di Pendapa Dalem Yudhanegaran Yogyakarta. Festival kali ini diikuti oleh 8 dalang anak dari masing-masing Kabupaten dan Kota. Setelah melalui persaingan yang ketat dari masing-masing peserta, karena kemampuan mereka hampir rata-rata baik dari sisi sanggit, dramatisasi, sabet dan kreatifitas, maka dewan yuri yang diketuai oleh Prof. Dr. Kasidi, M.Hum memtuskanhasil kejuaraan sebagai berikut :
  1. Juara 1 Putra Laksana Tanjung dari Gunungkidul dengan lakon Mima Bumbu.
  2. Aldi Priambodo dari Kota yogyakarta dengan lakon Jabang Tetuka
  3. Bayu Probo Prasopo dari Sleman dengan lakon Kangsa Lena
  4. Rahmad Basuki dari Bantul lakon Gatotkaca Lahir
  5. Rosiansah Darma Pratama dengan lakon Babad Alas Mertani.
Masing-masing mendapatkan trophy Gubernur dan sejumlah uang pembinaan. Untuk juara 1 dan 2 akan mewakili DIY dalam fastival dalang anak tingkat nasional di Jakarta.

Jumat, 20 Mei 2011

PETRUK RATU.... sebuah upaya pembaharuan


Pada tanggal 13 Mei 2011 kemarin SUKRAKASIH bekerja sama dengan Tembi Rumah Budaya menggelar pertunjukan wayang yang kain dari biasanya. Kali ini menggelar lakon PETRUK RATU dengan menampilkan 4 dalang dalam 3 layar. 2 layar dikiri dan kanan dan 1 layar screen di tengah. Menurut Ki Seno Nugroho (sie pergelaran), format ini sengaja ditamplkan sebagai penggabungan bentuk pertunjukan wayang jaman dulu dan sekarang. Karena kalau menurut pemahaman para pendahulu kita, nonton wayang yang benar adalah disebelah dalam kelir, karena katawayang diambil dari ayang2/bayangan dibalik kelir…..Tapi sejalan dengan perkembangan jaman, pola pertunjukan wayangpun mengalami perubahan…..pertunjukan wayang tidak hanya sisi filosofi dari bayang2 itu yang dilihat, tapi sajian dan gebyar pertunjukan, seperti tampilnya bintang tamu, tatatanan gamelan yang rapi, pesinden yang cantik2, dsb…..menjadi daya tarik penonmton saat ini. Untu itulah format ini kami tampilkan. Penonton bisa melihat gelaran wayang, sekaligus gerak bayangan yang didukung dengan tata lampu yang semakin menguatkan karakter dan keindahan tokoh wayang.
Sajian yang ditampilkan benar2 bisa menghibur dan menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton. Pendapa Tembi yang biasanya sering digunakan untuk pertunjukan wayang konvensional, kali ini mampu menyedot perhatian masyarakat, pemerhati dan pecinta wayang. Dengan pola dialog yang interaktif dari para dalang, dan gerak bayangan wayang yang dimainkan lebih dari 4 orang dibalik layar, berhasil menampilka saiian yang berbeda dan kreatif. Didukung dengan iringan yang dinamis, tidak monoton, karya Ki Haryo Sumantri, sangat terasa sekali bahwa para dalang yang tergabung dalam Paguyuban SUKRA KASIH berusaha membuat pakeliran gagrak Yogyakarta lebih menarik dan apresiatif untuk dinikmati. Sebagai upaya pengembangan agar seni pedalangan, khususnya gagrak Yogyakarta, tidak mati ditengah jalan, dan tinggal dongen masa lalu. Salam Budaya…..

Rabu, 11 Mei 2011

Kebanggaan Yogyakarta.......

Ki Suparman
Tiga seniman dhalang kondang yang totalitaas dan pengabdianya pada dunia wayang sangat mengharumkan dan menjadi kebanggaan Yogyakarta. Beliau bertiga telah tuntas menjalankan dharmanya sebagai dhalang dan pulang kembali menghadap Hyang Widi.......Semangat, loyalitas, kesungguhan dan kejujuran dalam berkesenian akan kami jadikan inspirasi dan motivasi dalam berkarya mengembangkan seni pedalangan khususnya gagrak Ngayogyakarta kemanapun kami berpijak....

Ki Hadi Sugito




Ki Timbul Hadiprayitno

Selasa, 10 Mei 2011

Selamat Jalan......


Semangat dan totalitasmu akan selalu kami kenang.....
Sebagai motivasi dan inspirasi kami dalam berkarya.......

Minggu, 08 Mei 2011

Bayang-bayang......

SINOM....

Seklumit crita tgl 13/05.. karacik ing tembang  SINOM : 
Prolog untuk cerita PETRUK RATU.....
"Anenggih kang kacarita
Sang Dewi Mustaka Weni
Putri Imo-Imantaka
Ingadegna Senopati 
Nyata wus datan miris
Tumandang lir Bantheng Tatu
Manjing Kang Duratmaka
Nyidra pusakaning Nagri
Ngamuk punggung suro tan taha sayekti."
 
(by ki.geter pw)

Jumat, 06 Mei 2011

Ki Geter dan Ki Lingga..



Ki Geter Pramujiwidodo dan Ki Lingga Wisnu Endatro, S.Sn.....adalah diantara 2 dalang yang akan tampil pada pementasan 4 dalang 3 kelir di Tembi Rumah Budaya, selain Ki Eko Suwondo dan Ki Taton Sulistyo. Ki Geter dalang berasal dari Sorobayan Bantul dikenal sebagai dalang muda yang sudah menep dan "temuwo"...tapi bukan berarti  alergi terhadap konsep2 baru pakeliran. Ia sangat terbuka dengan ide2, gagasan dan garapan2 baru, baik untuk seni pedalangan maupun karawitan. Sudah banyak karya yang ia hasilkan, yang sarat dengan konsep pembaharuan dan banyak dipakai oleh para dalang di Yogyakarta. Disamping itu ia juga banyak manggubah dan mengaransir lagu2 campursari Ki Manthous ketika ikut bergabung dengan CSGK. Tidak heran apabila darah seni mengalir deras ditubuhnya, karena memang keturunan trah seni dan keponakan dalang kondang Ki Timbul Hadi Prayitno. Dalam pentas 4 dalang 3 layar di Tembi pada tanggal 13 Mei 2011 besok, bisa kita lihat bagaimana kiprah Ki Geter yang temuwo dikolaborisakan dengan garap pakeliran yang kekinian.....

Ki Lingga.....dalang ini masih muda, enerjik dan gaul. Lulusan ISI Yogyakarta jurusan Pedalangan ini  berasal dari Kragilan Sleman. Sebagai trah dalang yang akademis ia mempunyai kelebihan dalam oleh sabet dan dramatisasi wayang dan sangat mengidolakan Ki Seno Nugroho, dalang kondang Yogyakarta. Sehingga tidak mengherankan bila dalam setiap penampilannya selalu energik, bergas dan cucut. Ciri khas Ki Lingga adalah ketika membawakan "kiprahan" ala jawa timuran.....

Rabu, 04 Mei 2011

Petruk Ratu.....Sebuah Refleksi.....

Petruk....hanyalah Petruk....bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Derajadnya adalah batur, abdi dan pelayan. Tapi ia bisa ada dimana-mana....karena Petruk adalah jiwa....Petruk adalah daging....Petruk adalah hati....Petruk adalah mata....Petruk adalah personifikasi rakyat, yang punya hati, punya daging, punya mata, yang jiwanya bisa terluka, sakit dan berontak dengan sekitarnya. Ia bisa benci, muak dan sangat reaktif melihat kenyataan, melihat bangsanya, melihat penguasanya, melihat apa saja disekelilingya semakin rusak, tatanan negara semakin kacau, dan rakyatnya semakin tidak terjamin kesejahteraannya. Sebagai warga negara yang sangat mencintai negaranya ia terpanggil untuk mendarmabaktikan tenaga dan jiwanya merubah itu semua. Ia beranggapan untuk dapat memberi pelajaran, kritik dan mengingatkan para bendaranya yang seakan terlena dan mabuk kekuasaan, tidak ada jalan lain kecuali harus mempunyai power, daya saing, bergaining yang kuat dan seimbang dengan penguasa. Maka jadilah ia seorang Raja di negara Loji Tengara dan bergelar Prabu Belgeduwelbeh....Petruk jadi raja....adalah gambaran kekuatan rakyat......yang apabila bersatu, besar dan kuat tidak ada satupun  yang bisa menghalanginya....termasuk kekuasaan.

Itulah sedikit gambaran cerita Petruk Ratu yang akan dipentaskan oleh ke-4 (Ki Geter, Ki Eko Suwndo, Ki Sulis dan Ki Ling) dalang anggota Paguyuban Dalang Muda SUKRA KASIH pada peregelaran rutin 2 bualanan bekerja sama dengan Tembi Rumah Budaya pada tanggal 13 Mei 2011. Pementasan kali ini mencoba suatu terobosan baru pementasan wayang gagrak Yogyakrata. Yaitu ke-4 dalang akan pentas dalam 2 kelir konvensional dan satu layar screen ditengah. Pengembangan pakeliran ini sebagai bentuk kepedulian SUKRA KASIH terhadap perkembangan seni pedalangan di Yogyakarta. Selalu berusaha, berproses dan mengembangkan daya olah cipta, rasa dan karsa mewujukan sebuah pementasan wayang yang berkwalitas dan ke-kinian. Sumangga.....Salam Budaya....

Senin, 02 Mei 2011

Kresna dalam Bharatayuda.....Trik atau Taktik?

Dalam kisah mahabarata, Prabu Kresna adalah raja Negara Dwarawati. Raja yang dikenal titsan Batara Wisnu,  bijaksana, pintar, ahli strategi dan penasehat yang handal dalam setiap memecahkan masalah yang dihadapi para Pandawa.Bisa dibilang, jika Pandawa adalah keretanya, Prabu Kresna adalah Saisnya. Tidak ada masalah yang terpecahkan tanpa campur tanganya. Begitupun ketika para Pandawa menghadapi perang besar Bharatyuda....
Peran Sri Kresna begitu dominan, baik dalam menyiapkan strategi, mengatur siasat dan segala cara yang dianggap mampu mendatangkan kemenangan di pihak Pandawa.
Perang Bharatayuda, adalah perang suci.....secara wadak memang sebuah perang memperebutkan kekuasaan, sebuah negara yang bernama Hastinapura,....tapi secara filosofis, katanya...perang Bharatayuda adalah perang yang memerangi kejahatan dan angkara murka yang ada di muka bumi. Pendawa digambarkan sebagai pihak suci, baik dan luhur, sedang para Kurawa adalah personifikasi dari nafsu angkara murka manusia yang tamak, jahat dan keji.
Perang yang katanya adalah perang suci...namun kenyataannya dalam praktek tetap menghalalkan berbagai cara guna meraih kemenangan. Tidak terkecuali para Pandawa atas nasehat, strategi yang diterapkan Kresna. Dalam beberapa peristiwa (lakon wayang) bisa kita jumpai akal Prabu Kresna yang apabila kita lihat dengan kacamata kemanusiaan, adalah suatu tindakan yang sebenarnya bersebelahan dengan rasa keadilan, kejujuran dan tanggung jawab secara kesatria. Hanya karena perbuatan itu dilakukan oleh pihak Pandawa, sehingga sisi2 buruk Sri Kresna tertutupi dan dibungkus rapi oleh idiom dan karakter para Pandawa yang dianggap sebagai para satria luhur, suci dan "kembanging jagad."
Contoh2 tindakan Sri Kresna yang terkesan, terlihat, atau memang curang sebagai botoh Pandawa :
  • Antareja dan Baladewa
  • Timpalan (Burisrawa Gugur)
  • Gatotkaca Gugur (mengorbankan Gatotkaca demi mnyelamtkan Arjuna)
  • Dorna Gugur (memerintahkan para Pandawa berbohong dengan mengatakan kalau Aswatama telah mati, padahal yang mati adalah Gajah Estitama)
  • Memerintahkan Arjuna melepaskan panah ketika Karna sedang memperbiki roda keretanya
Itu hanylah beberapa contoh tindakan Sri Kresna yang terkesan curang. Pertannyaan yang muncul adalah, Prabu Kresna sebagai titisan Wisnu apakah punya kepentingan pribadi hingga ia rela melakukan perbuatan itu, dan mungkin melupakan jati dirinya sebagai pengayom jagad?Walaupun berpredikat titisan Wisnu, Sri Kresna adalah juga sebagai manusia biasa yang memiliki kekinginan dan hasrat manusiawi untuk berkuasa dan merasakan kejayaan serta kenikmatan duniawi. Bila kita tengok kebelakang ketika peristiwa matinya Kalabendana akibat kejujuranya menceritakan bahwa Abimanyu telah beristri sebelum mempersunting Dewi Siti Sendari.Dan kenapa pula Kresna membolehkan siti Sendari dinikahi Abimanyu yang jelas2 telah memiliki seorang istri Dewi Utari. Ataukah Sri Kresna telah mengetahui bahwa Abimanyu adalah satria "kandanging wahyu" yang kelak akan menurunkun wiji ratu di tanah jawa? Juga doktrin yang ia jalankan, yang memunculkan wacana hanyalah Abimanyu dan keturunanya  Parikesit, anak Abimanyu dengan Utari, yang kelak berhak bertahta di Astina.Kenapa bukan Pancawala, dan anak turunya yang jelas2 anak dari Prabu Puntadewa raja Amarta. 

Akhirnya dapat dilihat bagaimana suatu kepentingan atau tujuan selalu memerlukan proses, tergantung bagaimana proses itu dijalankan hingga suatu tujuan memiliki kesan. Mengenai kebenaran, seperti petuah Kresna pada Arjuna: “Ia yang lahir harus mati, ia yang mati harus lahir. Jangan gelisah, karena hukum ini memang tak terelakkan… yang benar selalu ada, yang tidak benar, tak pernah ada. Para bijak menyadari Kebenaran Mutlak di balik kedua-duanya”

Sumangga anggenipun nanggepi....Salam Karahayon......

Sang Maestro......

Ki Hadi Sugito....salah satu yang terbaik yang dimiliki Yogyakarta. Dalang kondang berasal dari Toyan Wates Kulonprogo ini menjadi inspirator sebagian dalang2 yunior dibawahnya dalam berkarya. Tidak bisa dipungkiri, kehadiran Ki Hadi Sugito membawa warna baru pekaliran gagrak Yogyakarta kala itu....Dengan konsep pertunjukan yang sederhana, segar dan menghibur menimbulkan kontroversi dan cercaan dari dalang2 pendahulunya. Karena pertunjukan Ki Hadi Sugito berani melawan arus konsep pedalangan kal itu yang menjunjung tinggi dan mengagungkan pakem pedalangan, dengan penggunaan tata dan struktur bahasa yang sastrais dan indah, adegan dalam pekeliran yang formal, wingit dan kaku,....kenyataanya  didepan  Ki Hadi Sugito konsep tersebut dijungkir balikan dengan konsep pertunjukan yang ia pilih. Beliau tidak mentabukan penggunaan struktur bahasa, kosa kata, dan banyolan2 didalam setiap adegan. Dimanapun adegan itu ditampilkan, selalau saja disisipi banyolan ataupun ungkapan2 yang mengelitik yang membuat penonton fresh dan tidak tegang. Ki Hadi Sugito dikenal sebagai Dhalang "gecul", semu, dan mampu memainkan karakter wayang dengan baik, mampu memebedakan suara antara tokoh wayang satu dan lainya dengan jelas. Inilah sebuah perlawanan....sebuah ide kreatif yang beliau sajikan berhasil mengangkat seni pedalangan kala itu tidak kehilangan penggemarnya. Semoga semangat,  pengabdian dan totalitas  Beliau dalam menggauli seni pedalangan bisa dijadikan pegangan dan tauladan dalang2 muda saat ini dalam berkarya mengembangkan seni pedalangan......Salam Budaya.....

Jumat, 29 April 2011

Goro goro...tidak hanya sekedar tetembangan dan jejogedan....

Waktu menunjukan tepat jam 1 malam......"titi sonya madya ratri"....Terdengarlah alunan tembang sang dalang....melagukan Suluk SL. 9...."sansaya dalu araras.." Dalam sebuah pementasan wayang, adegan inilah biasanya yg ditunggu oleh penonton. Goro-goro.....adalah adegan refreshing.....Sebuah scene yg fungsinya mengendorkan syaraf bagi sang dalang, pengrawit, waranggana, atau penontonya sendiri. Setelah dari adegan pertama hingga tengah malam, penonton disuguhi adegan yang penuh ketegangan, kencang dan disitulah kinflik baru dibangun. Dalam adegan inilah ketegangan perlahan-lahan kendur tensiny karena dalam goro-goro sang dalang bebas berekspresi, berimajinasi bahkan dialog yang di bangun antara semar, gareng dan petruk dan bagong bebas kekuar dari konteks cerita. dalam adegan ini juga penuh dengan humor segar, menggelitik bahkan sedikit porno adalah sah2 saja. Juga penonton dihibur dengan tembang2 dolanan jawa, bahkan untuk saat ini tembang2 yg dilantunkan tidak diharamkan dan bahkan menjadi daya tarik penonton, adalah tembang campursari, dangdut, pop rock, dan tembang2 modern lainy...
Tetapi kalau kita maknai lebih dalam lagi, goro2 tidaklah hanya sekedar adegan hura2, senang2, jejogedan dan tetembangna. Goro-goro versi wayang kulit harusnya dimaknai sebagai simbolisasi dari perlawanan terhadap kekuasaan yang dijungkir balikkan melalui cerita. Bahkan para dalang jaman bahuela terbiasa mendemontrasikan pemberontakannya atau ide-ide pembaharuannya pada sesi goro-goro ini.
Berbicara goro-goro tak nyamleng bila tak membicarakan lakon utama dalam goro-goro itu sendiri. Ya, goro-goro atau jungkir baliknya dunia adalah saatnya bagi punakawan tampil. Beberapa tokoh jelek jejogedan dan uro-uro semaunya, cebang-ceblung ngalor ngidul omongannya tetapi pesannya jelas.
Megahnya istana Atmartha atau Hastina di dilupakan, sebagai gantinya suasana pedesaaan Karangkedempel atau Pecukpecukilan ditampilkan, ini jamannya kaum kromo. Begitu tegasnya goro-goro.
Di tanah asalnya, di lembah Sungai Gangga dan Yamuna di selatan Himalaya, konsep wayang punakawan sama sekali tidaklah dikenal. Dengan kata lain konsep rakyat jelata dalam struktur wayang India juga tidak tidak ada.
Konsep punakawan adalah murni hasil pemikiran kerakyatan manusia Jawa. Dia mewakili pandangan ideologis rakyat yang serong ke “kiri”, sekaligus mewakili pandangan-pandangan akar rumput yang membebaskan.
Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Goro2 adalah saatny rakyat menyuarakan keinginanya, hak2 nya yang mungkin tersembat jika disuarakan pada tempat2 formil para kesatria bertakhta.

Proses Latihan


Dalam rangka persiapan pentas tgl 13 Mei 2011 dengan menampilkan 4 dalang 3 layar.....Ki Geter Pramuji Widodo, Ki Eko Suwondo, Ki Taton Sulistyo dan Ki Lingga Wisnu Endarta.....Semangat teman2 dalam berlatih dan berproses patut diapresiasi demi mewujudkan cita-cita dan harapan perkembangan seni pedalangan Yogyakarta makin maju dan berkembang.....

Kamis, 28 April 2011

"Petruk Ratu"

Adalah lakon yang diangkat pada pementasan ke-2 di Pendapa Tembi Rumah Budaya pada tanggal 13 Mei 2011. Pergelaran kali ini mencoba menyajikan konsep pertunjukan dengan menampilkan 4 dalang dalam 3 kelir. 2 kelir kanan kiri, seperti halnya kelir pada pentas wayang konvensional,  dan 1 kelir berupa layar slide ditengah, yang mencoba menvisualisasikan bayang-bayang gerak wayang dan mengoptimalkan karakter wayang. Dalang yang akan tampil : Ki Geter Pramujiwidodo, Ki Eko Suwondo, Ki Katon Sulisyto dan Ki Lingga Wisnu Endarto, S.Sn.

Selasa, 26 April 2011

Ki Utoro dan Ki Suharno....dalang muda potensial




Ki Utoro Widayanto.....dalang muda kelahiran Tegalsari Sleman adalah salah satu dalang yang mempunyai kelebihan dalam olah sabet dan gerak wayang. Bersama Ki Suharno, dalang muda kelahiran Lampung, tapi sekarang tinggal di Sewaon Bantul,  yang handal dalam olah sanggit dan dramtisasi wayang, pada tanggal 23 April 2011 berkolaborasi, pentas bersama dengan 2 kelir di Museum Perjuangan yogyakarta dengan lakon Jumenengan Parikesit. Penyajian 2 kelir ini dikonsep dengan model interaktif, artinya kedua dalang tidak berdiri sendiri dalam tiap2 adegan, tapi menyatu dalam adegan dengan masing2 dalang berdialog sesuai dengan karakter wayang yang dibawakan. Dengan garap iringan dan sanggit wayang yang dinamis, kreatif dan sarat denganterobosan2 baru pakeliran gaya Yogyakarta, pentas kali ini mampu menyita perhatian warga kota Yogyakarta, yang selama ini berasumsi bahwa pakeliran gaya Yogyakarta itu menjemukan, nglangut dan kurang menarik. Akan tetapi  pentas kemarin membuktikan, dengan persiapan yang matang, terkonsep dan membebaskan penyaji untuk mengeluarkan ide2 kratifnya, maka wayang gagrak Yogyakrta bisa disajikan dengan menarik dan dinamis.

Seklumit Tentang Kami.....


Paguyuban Dalang Muda Yogyakarta SUKRO KASIH….
Paguyuban dalang Sukro Kasih adalah paguyuban yang beranggotakan dalang2 muda di wilayah DIY. Paguyuban ini mempunyai tujuan dan arah untuk meningkatkan SDM para dalang, khususnya dalang2 muda, dalam berkreasi, berinovasi dam berimprovisasi agar didalam setiap penampilanya bisa menyajikan sebuah pertunjukan yang berkwalitas.

Terbentuknya paguyuban ini berangkat dari kegelisahan para dalang muda DIY terhadap perkembangan seni pedalangan, khususnya gagrak Ngayogyakarta, yang mengalami stagnasi, minim kreaifitas, dan cenderung terkotak-kotakan. Maka berkumpulah beberapa dalang muda yang mempunyai pandangan kedepan untuk menyatukan visi, kebersamaan dan keguyuban dalang2 muda di wilayah DIY. Maka terbentuklah paguyuban ini dengan nama Paguyuban dalang SUKRO KASIH, nama Sukrokasih diambil karena pertemuan tersebut berlangsung pada malam kliwon legi dengan ketua Ki Suharno.

Motto paguyuban ini adalah: Bersama Memacu Daya Kreatifitas sedangkan semboyanya : Menjalin dan Berbagi, Hilangkan Fanatisme dan Egoisme….

Sifat paguyuban ini adalah terbuka bagi siapa saja yg merasa berkepentingan dan peduli pada perkembangan seni pedalangan, baik berasal dari pelakau (dalang, pengrawit, waranggana), pemerhati seni, budayawan, pecinta wayang, dsb.

Pelantikan Pengurus

Bertempat di Pendapa Tembi Rumah Budaya Bantul Yogyakarta, pada tanggal 11 Maret 2011 pengurus Paguyuban Dalang Muda Yogyakarta SUKRA KASIH resmi dilantik. Ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Direktur Tembi Rumah Budaya dan diserahkan secara simbolis kepada ketua paguyuban Ki Suharno. Pada kesempatan ini juga ditampilkan pergelaran wayang kulit garap 2 kelir dengan dalang Ki Utoro Widayanto dan Ki Suharno mengambil cerita Ampak2 Astinapura. Adapun pengurus paguyuban:
  1. Ketua                 : Ki Suharno
  2. Sekretaris           : Ki Sumanto
  3. Bendahara          : Ki Sri Mulyono
  4. Sie Pergelaran     : Ki Seno Nugroho
  5. Sie Publikasi       : Ki Supriyono
  6. Sie Humas          : Ki Utoro W dan Herdaru JA
  7. Korwil                : Ki Gandung J, Ki Widi P, Ki Anom S, Ki Putut A, Ki Yuwono.