Waktu menunjukan tepat jam 1 malam......"titi sonya madya ratri"....Terdengarlah alunan tembang sang dalang....melagukan Suluk SL. 9...."sansaya dalu araras.." Dalam sebuah pementasan wayang, adegan inilah biasanya yg ditunggu oleh penonton. Goro-goro.....adalah adegan refreshing.....Sebuah scene yg fungsinya mengendorkan syaraf bagi sang dalang, pengrawit, waranggana, atau penontonya sendiri. Setelah dari adegan pertama hingga tengah malam, penonton disuguhi adegan yang penuh ketegangan, kencang dan disitulah kinflik baru dibangun. Dalam adegan inilah ketegangan perlahan-lahan kendur tensiny karena dalam goro-goro sang dalang bebas berekspresi, berimajinasi bahkan dialog yang di bangun antara semar, gareng dan petruk dan bagong bebas kekuar dari konteks cerita. dalam adegan ini juga penuh dengan humor segar, menggelitik bahkan sedikit porno adalah sah2 saja. Juga penonton dihibur dengan tembang2 dolanan jawa, bahkan untuk saat ini tembang2 yg dilantunkan tidak diharamkan dan bahkan menjadi daya tarik penonton, adalah tembang campursari, dangdut, pop rock, dan tembang2 modern lainy...
Tetapi kalau kita maknai lebih dalam lagi, goro2 tidaklah hanya sekedar adegan hura2, senang2, jejogedan dan tetembangna. Goro-goro versi wayang kulit harusnya dimaknai sebagai simbolisasi dari perlawanan terhadap kekuasaan yang dijungkir balikkan melalui cerita. Bahkan para dalang jaman bahuela terbiasa mendemontrasikan pemberontakannya atau ide-ide pembaharuannya pada sesi goro-goro ini.
Berbicara goro-goro tak nyamleng bila tak membicarakan lakon utama dalam goro-goro itu sendiri. Ya, goro-goro atau jungkir baliknya dunia adalah saatnya bagi punakawan tampil. Beberapa tokoh jelek jejogedan dan uro-uro semaunya, cebang-ceblung ngalor ngidul omongannya tetapi pesannya jelas.
Megahnya istana Atmartha atau Hastina di dilupakan, sebagai gantinya suasana pedesaaan Karangkedempel atau Pecukpecukilan ditampilkan, ini jamannya kaum kromo. Begitu tegasnya goro-goro.
Di tanah asalnya, di lembah Sungai Gangga dan Yamuna di selatan Himalaya, konsep wayang punakawan sama sekali tidaklah dikenal. Dengan kata lain konsep rakyat jelata dalam struktur wayang India juga tidak tidak ada.
Konsep punakawan adalah murni hasil pemikiran kerakyatan manusia Jawa. Dia mewakili pandangan ideologis rakyat yang serong ke “kiri”, sekaligus mewakili pandangan-pandangan akar rumput yang membebaskan.
Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Goro2 adalah saatny rakyat menyuarakan keinginanya, hak2 nya yang mungkin tersembat jika disuarakan pada tempat2 formil para kesatria bertakhta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar