Cari Blog Ini

Jumat, 29 April 2011

Goro goro...tidak hanya sekedar tetembangan dan jejogedan....

Waktu menunjukan tepat jam 1 malam......"titi sonya madya ratri"....Terdengarlah alunan tembang sang dalang....melagukan Suluk SL. 9...."sansaya dalu araras.." Dalam sebuah pementasan wayang, adegan inilah biasanya yg ditunggu oleh penonton. Goro-goro.....adalah adegan refreshing.....Sebuah scene yg fungsinya mengendorkan syaraf bagi sang dalang, pengrawit, waranggana, atau penontonya sendiri. Setelah dari adegan pertama hingga tengah malam, penonton disuguhi adegan yang penuh ketegangan, kencang dan disitulah kinflik baru dibangun. Dalam adegan inilah ketegangan perlahan-lahan kendur tensiny karena dalam goro-goro sang dalang bebas berekspresi, berimajinasi bahkan dialog yang di bangun antara semar, gareng dan petruk dan bagong bebas kekuar dari konteks cerita. dalam adegan ini juga penuh dengan humor segar, menggelitik bahkan sedikit porno adalah sah2 saja. Juga penonton dihibur dengan tembang2 dolanan jawa, bahkan untuk saat ini tembang2 yg dilantunkan tidak diharamkan dan bahkan menjadi daya tarik penonton, adalah tembang campursari, dangdut, pop rock, dan tembang2 modern lainy...
Tetapi kalau kita maknai lebih dalam lagi, goro2 tidaklah hanya sekedar adegan hura2, senang2, jejogedan dan tetembangna. Goro-goro versi wayang kulit harusnya dimaknai sebagai simbolisasi dari perlawanan terhadap kekuasaan yang dijungkir balikkan melalui cerita. Bahkan para dalang jaman bahuela terbiasa mendemontrasikan pemberontakannya atau ide-ide pembaharuannya pada sesi goro-goro ini.
Berbicara goro-goro tak nyamleng bila tak membicarakan lakon utama dalam goro-goro itu sendiri. Ya, goro-goro atau jungkir baliknya dunia adalah saatnya bagi punakawan tampil. Beberapa tokoh jelek jejogedan dan uro-uro semaunya, cebang-ceblung ngalor ngidul omongannya tetapi pesannya jelas.
Megahnya istana Atmartha atau Hastina di dilupakan, sebagai gantinya suasana pedesaaan Karangkedempel atau Pecukpecukilan ditampilkan, ini jamannya kaum kromo. Begitu tegasnya goro-goro.
Di tanah asalnya, di lembah Sungai Gangga dan Yamuna di selatan Himalaya, konsep wayang punakawan sama sekali tidaklah dikenal. Dengan kata lain konsep rakyat jelata dalam struktur wayang India juga tidak tidak ada.
Konsep punakawan adalah murni hasil pemikiran kerakyatan manusia Jawa. Dia mewakili pandangan ideologis rakyat yang serong ke “kiri”, sekaligus mewakili pandangan-pandangan akar rumput yang membebaskan.
Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Goro2 adalah saatny rakyat menyuarakan keinginanya, hak2 nya yang mungkin tersembat jika disuarakan pada tempat2 formil para kesatria bertakhta.

Proses Latihan


Dalam rangka persiapan pentas tgl 13 Mei 2011 dengan menampilkan 4 dalang 3 layar.....Ki Geter Pramuji Widodo, Ki Eko Suwondo, Ki Taton Sulistyo dan Ki Lingga Wisnu Endarta.....Semangat teman2 dalam berlatih dan berproses patut diapresiasi demi mewujudkan cita-cita dan harapan perkembangan seni pedalangan Yogyakarta makin maju dan berkembang.....

Kamis, 28 April 2011

"Petruk Ratu"

Adalah lakon yang diangkat pada pementasan ke-2 di Pendapa Tembi Rumah Budaya pada tanggal 13 Mei 2011. Pergelaran kali ini mencoba menyajikan konsep pertunjukan dengan menampilkan 4 dalang dalam 3 kelir. 2 kelir kanan kiri, seperti halnya kelir pada pentas wayang konvensional,  dan 1 kelir berupa layar slide ditengah, yang mencoba menvisualisasikan bayang-bayang gerak wayang dan mengoptimalkan karakter wayang. Dalang yang akan tampil : Ki Geter Pramujiwidodo, Ki Eko Suwondo, Ki Katon Sulisyto dan Ki Lingga Wisnu Endarto, S.Sn.

Selasa, 26 April 2011

Ki Utoro dan Ki Suharno....dalang muda potensial




Ki Utoro Widayanto.....dalang muda kelahiran Tegalsari Sleman adalah salah satu dalang yang mempunyai kelebihan dalam olah sabet dan gerak wayang. Bersama Ki Suharno, dalang muda kelahiran Lampung, tapi sekarang tinggal di Sewaon Bantul,  yang handal dalam olah sanggit dan dramtisasi wayang, pada tanggal 23 April 2011 berkolaborasi, pentas bersama dengan 2 kelir di Museum Perjuangan yogyakarta dengan lakon Jumenengan Parikesit. Penyajian 2 kelir ini dikonsep dengan model interaktif, artinya kedua dalang tidak berdiri sendiri dalam tiap2 adegan, tapi menyatu dalam adegan dengan masing2 dalang berdialog sesuai dengan karakter wayang yang dibawakan. Dengan garap iringan dan sanggit wayang yang dinamis, kreatif dan sarat denganterobosan2 baru pakeliran gaya Yogyakarta, pentas kali ini mampu menyita perhatian warga kota Yogyakarta, yang selama ini berasumsi bahwa pakeliran gaya Yogyakarta itu menjemukan, nglangut dan kurang menarik. Akan tetapi  pentas kemarin membuktikan, dengan persiapan yang matang, terkonsep dan membebaskan penyaji untuk mengeluarkan ide2 kratifnya, maka wayang gagrak Yogyakrta bisa disajikan dengan menarik dan dinamis.

Seklumit Tentang Kami.....


Paguyuban Dalang Muda Yogyakarta SUKRO KASIH….
Paguyuban dalang Sukro Kasih adalah paguyuban yang beranggotakan dalang2 muda di wilayah DIY. Paguyuban ini mempunyai tujuan dan arah untuk meningkatkan SDM para dalang, khususnya dalang2 muda, dalam berkreasi, berinovasi dam berimprovisasi agar didalam setiap penampilanya bisa menyajikan sebuah pertunjukan yang berkwalitas.

Terbentuknya paguyuban ini berangkat dari kegelisahan para dalang muda DIY terhadap perkembangan seni pedalangan, khususnya gagrak Ngayogyakarta, yang mengalami stagnasi, minim kreaifitas, dan cenderung terkotak-kotakan. Maka berkumpulah beberapa dalang muda yang mempunyai pandangan kedepan untuk menyatukan visi, kebersamaan dan keguyuban dalang2 muda di wilayah DIY. Maka terbentuklah paguyuban ini dengan nama Paguyuban dalang SUKRO KASIH, nama Sukrokasih diambil karena pertemuan tersebut berlangsung pada malam kliwon legi dengan ketua Ki Suharno.

Motto paguyuban ini adalah: Bersama Memacu Daya Kreatifitas sedangkan semboyanya : Menjalin dan Berbagi, Hilangkan Fanatisme dan Egoisme….

Sifat paguyuban ini adalah terbuka bagi siapa saja yg merasa berkepentingan dan peduli pada perkembangan seni pedalangan, baik berasal dari pelakau (dalang, pengrawit, waranggana), pemerhati seni, budayawan, pecinta wayang, dsb.

Pelantikan Pengurus

Bertempat di Pendapa Tembi Rumah Budaya Bantul Yogyakarta, pada tanggal 11 Maret 2011 pengurus Paguyuban Dalang Muda Yogyakarta SUKRA KASIH resmi dilantik. Ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Direktur Tembi Rumah Budaya dan diserahkan secara simbolis kepada ketua paguyuban Ki Suharno. Pada kesempatan ini juga ditampilkan pergelaran wayang kulit garap 2 kelir dengan dalang Ki Utoro Widayanto dan Ki Suharno mengambil cerita Ampak2 Astinapura. Adapun pengurus paguyuban:
  1. Ketua                 : Ki Suharno
  2. Sekretaris           : Ki Sumanto
  3. Bendahara          : Ki Sri Mulyono
  4. Sie Pergelaran     : Ki Seno Nugroho
  5. Sie Publikasi       : Ki Supriyono
  6. Sie Humas          : Ki Utoro W dan Herdaru JA
  7. Korwil                : Ki Gandung J, Ki Widi P, Ki Anom S, Ki Putut A, Ki Yuwono.