Cari Blog Ini

Rabu, 25 Mei 2011

Festival Dalang Anak se-DIY 2011


Pada tanggal 24-25 Mei 2011, Dinas Kebudayaan Propinsi DIY bekerja sama denga PEPADI Komda DIY menyelenggarakan festival dalang anak se DIY bertempat di Pendapa Dalem Yudhanegaran Yogyakarta. Festival kali ini diikuti oleh 8 dalang anak dari masing-masing Kabupaten dan Kota. Setelah melalui persaingan yang ketat dari masing-masing peserta, karena kemampuan mereka hampir rata-rata baik dari sisi sanggit, dramatisasi, sabet dan kreatifitas, maka dewan yuri yang diketuai oleh Prof. Dr. Kasidi, M.Hum memtuskanhasil kejuaraan sebagai berikut :
  1. Juara 1 Putra Laksana Tanjung dari Gunungkidul dengan lakon Mima Bumbu.
  2. Aldi Priambodo dari Kota yogyakarta dengan lakon Jabang Tetuka
  3. Bayu Probo Prasopo dari Sleman dengan lakon Kangsa Lena
  4. Rahmad Basuki dari Bantul lakon Gatotkaca Lahir
  5. Rosiansah Darma Pratama dengan lakon Babad Alas Mertani.
Masing-masing mendapatkan trophy Gubernur dan sejumlah uang pembinaan. Untuk juara 1 dan 2 akan mewakili DIY dalam fastival dalang anak tingkat nasional di Jakarta.

Jumat, 20 Mei 2011

PETRUK RATU.... sebuah upaya pembaharuan


Pada tanggal 13 Mei 2011 kemarin SUKRAKASIH bekerja sama dengan Tembi Rumah Budaya menggelar pertunjukan wayang yang kain dari biasanya. Kali ini menggelar lakon PETRUK RATU dengan menampilkan 4 dalang dalam 3 layar. 2 layar dikiri dan kanan dan 1 layar screen di tengah. Menurut Ki Seno Nugroho (sie pergelaran), format ini sengaja ditamplkan sebagai penggabungan bentuk pertunjukan wayang jaman dulu dan sekarang. Karena kalau menurut pemahaman para pendahulu kita, nonton wayang yang benar adalah disebelah dalam kelir, karena katawayang diambil dari ayang2/bayangan dibalik kelir…..Tapi sejalan dengan perkembangan jaman, pola pertunjukan wayangpun mengalami perubahan…..pertunjukan wayang tidak hanya sisi filosofi dari bayang2 itu yang dilihat, tapi sajian dan gebyar pertunjukan, seperti tampilnya bintang tamu, tatatanan gamelan yang rapi, pesinden yang cantik2, dsb…..menjadi daya tarik penonmton saat ini. Untu itulah format ini kami tampilkan. Penonton bisa melihat gelaran wayang, sekaligus gerak bayangan yang didukung dengan tata lampu yang semakin menguatkan karakter dan keindahan tokoh wayang.
Sajian yang ditampilkan benar2 bisa menghibur dan menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton. Pendapa Tembi yang biasanya sering digunakan untuk pertunjukan wayang konvensional, kali ini mampu menyedot perhatian masyarakat, pemerhati dan pecinta wayang. Dengan pola dialog yang interaktif dari para dalang, dan gerak bayangan wayang yang dimainkan lebih dari 4 orang dibalik layar, berhasil menampilka saiian yang berbeda dan kreatif. Didukung dengan iringan yang dinamis, tidak monoton, karya Ki Haryo Sumantri, sangat terasa sekali bahwa para dalang yang tergabung dalam Paguyuban SUKRA KASIH berusaha membuat pakeliran gagrak Yogyakarta lebih menarik dan apresiatif untuk dinikmati. Sebagai upaya pengembangan agar seni pedalangan, khususnya gagrak Yogyakarta, tidak mati ditengah jalan, dan tinggal dongen masa lalu. Salam Budaya…..

Rabu, 11 Mei 2011

Kebanggaan Yogyakarta.......

Ki Suparman
Tiga seniman dhalang kondang yang totalitaas dan pengabdianya pada dunia wayang sangat mengharumkan dan menjadi kebanggaan Yogyakarta. Beliau bertiga telah tuntas menjalankan dharmanya sebagai dhalang dan pulang kembali menghadap Hyang Widi.......Semangat, loyalitas, kesungguhan dan kejujuran dalam berkesenian akan kami jadikan inspirasi dan motivasi dalam berkarya mengembangkan seni pedalangan khususnya gagrak Ngayogyakarta kemanapun kami berpijak....

Ki Hadi Sugito




Ki Timbul Hadiprayitno

Selasa, 10 Mei 2011

Selamat Jalan......


Semangat dan totalitasmu akan selalu kami kenang.....
Sebagai motivasi dan inspirasi kami dalam berkarya.......

Minggu, 08 Mei 2011

Bayang-bayang......

SINOM....

Seklumit crita tgl 13/05.. karacik ing tembang  SINOM : 
Prolog untuk cerita PETRUK RATU.....
"Anenggih kang kacarita
Sang Dewi Mustaka Weni
Putri Imo-Imantaka
Ingadegna Senopati 
Nyata wus datan miris
Tumandang lir Bantheng Tatu
Manjing Kang Duratmaka
Nyidra pusakaning Nagri
Ngamuk punggung suro tan taha sayekti."
 
(by ki.geter pw)

Jumat, 06 Mei 2011

Ki Geter dan Ki Lingga..



Ki Geter Pramujiwidodo dan Ki Lingga Wisnu Endatro, S.Sn.....adalah diantara 2 dalang yang akan tampil pada pementasan 4 dalang 3 kelir di Tembi Rumah Budaya, selain Ki Eko Suwondo dan Ki Taton Sulistyo. Ki Geter dalang berasal dari Sorobayan Bantul dikenal sebagai dalang muda yang sudah menep dan "temuwo"...tapi bukan berarti  alergi terhadap konsep2 baru pakeliran. Ia sangat terbuka dengan ide2, gagasan dan garapan2 baru, baik untuk seni pedalangan maupun karawitan. Sudah banyak karya yang ia hasilkan, yang sarat dengan konsep pembaharuan dan banyak dipakai oleh para dalang di Yogyakarta. Disamping itu ia juga banyak manggubah dan mengaransir lagu2 campursari Ki Manthous ketika ikut bergabung dengan CSGK. Tidak heran apabila darah seni mengalir deras ditubuhnya, karena memang keturunan trah seni dan keponakan dalang kondang Ki Timbul Hadi Prayitno. Dalam pentas 4 dalang 3 layar di Tembi pada tanggal 13 Mei 2011 besok, bisa kita lihat bagaimana kiprah Ki Geter yang temuwo dikolaborisakan dengan garap pakeliran yang kekinian.....

Ki Lingga.....dalang ini masih muda, enerjik dan gaul. Lulusan ISI Yogyakarta jurusan Pedalangan ini  berasal dari Kragilan Sleman. Sebagai trah dalang yang akademis ia mempunyai kelebihan dalam oleh sabet dan dramatisasi wayang dan sangat mengidolakan Ki Seno Nugroho, dalang kondang Yogyakarta. Sehingga tidak mengherankan bila dalam setiap penampilannya selalu energik, bergas dan cucut. Ciri khas Ki Lingga adalah ketika membawakan "kiprahan" ala jawa timuran.....

Rabu, 04 Mei 2011

Petruk Ratu.....Sebuah Refleksi.....

Petruk....hanyalah Petruk....bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Derajadnya adalah batur, abdi dan pelayan. Tapi ia bisa ada dimana-mana....karena Petruk adalah jiwa....Petruk adalah daging....Petruk adalah hati....Petruk adalah mata....Petruk adalah personifikasi rakyat, yang punya hati, punya daging, punya mata, yang jiwanya bisa terluka, sakit dan berontak dengan sekitarnya. Ia bisa benci, muak dan sangat reaktif melihat kenyataan, melihat bangsanya, melihat penguasanya, melihat apa saja disekelilingya semakin rusak, tatanan negara semakin kacau, dan rakyatnya semakin tidak terjamin kesejahteraannya. Sebagai warga negara yang sangat mencintai negaranya ia terpanggil untuk mendarmabaktikan tenaga dan jiwanya merubah itu semua. Ia beranggapan untuk dapat memberi pelajaran, kritik dan mengingatkan para bendaranya yang seakan terlena dan mabuk kekuasaan, tidak ada jalan lain kecuali harus mempunyai power, daya saing, bergaining yang kuat dan seimbang dengan penguasa. Maka jadilah ia seorang Raja di negara Loji Tengara dan bergelar Prabu Belgeduwelbeh....Petruk jadi raja....adalah gambaran kekuatan rakyat......yang apabila bersatu, besar dan kuat tidak ada satupun  yang bisa menghalanginya....termasuk kekuasaan.

Itulah sedikit gambaran cerita Petruk Ratu yang akan dipentaskan oleh ke-4 (Ki Geter, Ki Eko Suwndo, Ki Sulis dan Ki Ling) dalang anggota Paguyuban Dalang Muda SUKRA KASIH pada peregelaran rutin 2 bualanan bekerja sama dengan Tembi Rumah Budaya pada tanggal 13 Mei 2011. Pementasan kali ini mencoba suatu terobosan baru pementasan wayang gagrak Yogyakrata. Yaitu ke-4 dalang akan pentas dalam 2 kelir konvensional dan satu layar screen ditengah. Pengembangan pakeliran ini sebagai bentuk kepedulian SUKRA KASIH terhadap perkembangan seni pedalangan di Yogyakarta. Selalu berusaha, berproses dan mengembangkan daya olah cipta, rasa dan karsa mewujukan sebuah pementasan wayang yang berkwalitas dan ke-kinian. Sumangga.....Salam Budaya....

Senin, 02 Mei 2011

Kresna dalam Bharatayuda.....Trik atau Taktik?

Dalam kisah mahabarata, Prabu Kresna adalah raja Negara Dwarawati. Raja yang dikenal titsan Batara Wisnu,  bijaksana, pintar, ahli strategi dan penasehat yang handal dalam setiap memecahkan masalah yang dihadapi para Pandawa.Bisa dibilang, jika Pandawa adalah keretanya, Prabu Kresna adalah Saisnya. Tidak ada masalah yang terpecahkan tanpa campur tanganya. Begitupun ketika para Pandawa menghadapi perang besar Bharatyuda....
Peran Sri Kresna begitu dominan, baik dalam menyiapkan strategi, mengatur siasat dan segala cara yang dianggap mampu mendatangkan kemenangan di pihak Pandawa.
Perang Bharatayuda, adalah perang suci.....secara wadak memang sebuah perang memperebutkan kekuasaan, sebuah negara yang bernama Hastinapura,....tapi secara filosofis, katanya...perang Bharatayuda adalah perang yang memerangi kejahatan dan angkara murka yang ada di muka bumi. Pendawa digambarkan sebagai pihak suci, baik dan luhur, sedang para Kurawa adalah personifikasi dari nafsu angkara murka manusia yang tamak, jahat dan keji.
Perang yang katanya adalah perang suci...namun kenyataannya dalam praktek tetap menghalalkan berbagai cara guna meraih kemenangan. Tidak terkecuali para Pandawa atas nasehat, strategi yang diterapkan Kresna. Dalam beberapa peristiwa (lakon wayang) bisa kita jumpai akal Prabu Kresna yang apabila kita lihat dengan kacamata kemanusiaan, adalah suatu tindakan yang sebenarnya bersebelahan dengan rasa keadilan, kejujuran dan tanggung jawab secara kesatria. Hanya karena perbuatan itu dilakukan oleh pihak Pandawa, sehingga sisi2 buruk Sri Kresna tertutupi dan dibungkus rapi oleh idiom dan karakter para Pandawa yang dianggap sebagai para satria luhur, suci dan "kembanging jagad."
Contoh2 tindakan Sri Kresna yang terkesan, terlihat, atau memang curang sebagai botoh Pandawa :
  • Antareja dan Baladewa
  • Timpalan (Burisrawa Gugur)
  • Gatotkaca Gugur (mengorbankan Gatotkaca demi mnyelamtkan Arjuna)
  • Dorna Gugur (memerintahkan para Pandawa berbohong dengan mengatakan kalau Aswatama telah mati, padahal yang mati adalah Gajah Estitama)
  • Memerintahkan Arjuna melepaskan panah ketika Karna sedang memperbiki roda keretanya
Itu hanylah beberapa contoh tindakan Sri Kresna yang terkesan curang. Pertannyaan yang muncul adalah, Prabu Kresna sebagai titisan Wisnu apakah punya kepentingan pribadi hingga ia rela melakukan perbuatan itu, dan mungkin melupakan jati dirinya sebagai pengayom jagad?Walaupun berpredikat titisan Wisnu, Sri Kresna adalah juga sebagai manusia biasa yang memiliki kekinginan dan hasrat manusiawi untuk berkuasa dan merasakan kejayaan serta kenikmatan duniawi. Bila kita tengok kebelakang ketika peristiwa matinya Kalabendana akibat kejujuranya menceritakan bahwa Abimanyu telah beristri sebelum mempersunting Dewi Siti Sendari.Dan kenapa pula Kresna membolehkan siti Sendari dinikahi Abimanyu yang jelas2 telah memiliki seorang istri Dewi Utari. Ataukah Sri Kresna telah mengetahui bahwa Abimanyu adalah satria "kandanging wahyu" yang kelak akan menurunkun wiji ratu di tanah jawa? Juga doktrin yang ia jalankan, yang memunculkan wacana hanyalah Abimanyu dan keturunanya  Parikesit, anak Abimanyu dengan Utari, yang kelak berhak bertahta di Astina.Kenapa bukan Pancawala, dan anak turunya yang jelas2 anak dari Prabu Puntadewa raja Amarta. 

Akhirnya dapat dilihat bagaimana suatu kepentingan atau tujuan selalu memerlukan proses, tergantung bagaimana proses itu dijalankan hingga suatu tujuan memiliki kesan. Mengenai kebenaran, seperti petuah Kresna pada Arjuna: “Ia yang lahir harus mati, ia yang mati harus lahir. Jangan gelisah, karena hukum ini memang tak terelakkan… yang benar selalu ada, yang tidak benar, tak pernah ada. Para bijak menyadari Kebenaran Mutlak di balik kedua-duanya”

Sumangga anggenipun nanggepi....Salam Karahayon......

Sang Maestro......

Ki Hadi Sugito....salah satu yang terbaik yang dimiliki Yogyakarta. Dalang kondang berasal dari Toyan Wates Kulonprogo ini menjadi inspirator sebagian dalang2 yunior dibawahnya dalam berkarya. Tidak bisa dipungkiri, kehadiran Ki Hadi Sugito membawa warna baru pekaliran gagrak Yogyakarta kala itu....Dengan konsep pertunjukan yang sederhana, segar dan menghibur menimbulkan kontroversi dan cercaan dari dalang2 pendahulunya. Karena pertunjukan Ki Hadi Sugito berani melawan arus konsep pedalangan kal itu yang menjunjung tinggi dan mengagungkan pakem pedalangan, dengan penggunaan tata dan struktur bahasa yang sastrais dan indah, adegan dalam pekeliran yang formal, wingit dan kaku,....kenyataanya  didepan  Ki Hadi Sugito konsep tersebut dijungkir balikan dengan konsep pertunjukan yang ia pilih. Beliau tidak mentabukan penggunaan struktur bahasa, kosa kata, dan banyolan2 didalam setiap adegan. Dimanapun adegan itu ditampilkan, selalau saja disisipi banyolan ataupun ungkapan2 yang mengelitik yang membuat penonton fresh dan tidak tegang. Ki Hadi Sugito dikenal sebagai Dhalang "gecul", semu, dan mampu memainkan karakter wayang dengan baik, mampu memebedakan suara antara tokoh wayang satu dan lainya dengan jelas. Inilah sebuah perlawanan....sebuah ide kreatif yang beliau sajikan berhasil mengangkat seni pedalangan kala itu tidak kehilangan penggemarnya. Semoga semangat,  pengabdian dan totalitas  Beliau dalam menggauli seni pedalangan bisa dijadikan pegangan dan tauladan dalang2 muda saat ini dalam berkarya mengembangkan seni pedalangan......Salam Budaya.....