Dalam kisah mahabarata, Prabu Kresna adalah raja Negara Dwarawati. Raja yang dikenal titsan Batara Wisnu, bijaksana, pintar, ahli strategi dan penasehat yang handal dalam setiap memecahkan masalah yang dihadapi para Pandawa.Bisa dibilang, jika Pandawa adalah keretanya, Prabu Kresna adalah Saisnya. Tidak ada masalah yang terpecahkan tanpa campur tanganya. Begitupun ketika para Pandawa menghadapi perang besar Bharatyuda....
Peran Sri Kresna begitu dominan, baik dalam menyiapkan strategi, mengatur siasat dan segala cara yang dianggap mampu mendatangkan kemenangan di pihak Pandawa.
Perang Bharatayuda, adalah perang suci.....secara wadak memang sebuah perang memperebutkan kekuasaan, sebuah negara yang bernama Hastinapura,....tapi secara filosofis, katanya...perang Bharatayuda adalah perang yang memerangi kejahatan dan angkara murka yang ada di muka bumi. Pendawa digambarkan sebagai pihak suci, baik dan luhur, sedang para Kurawa adalah personifikasi dari nafsu angkara murka manusia yang tamak, jahat dan keji.
Perang yang katanya adalah perang suci...namun kenyataannya dalam praktek tetap menghalalkan berbagai cara guna meraih kemenangan. Tidak terkecuali para Pandawa atas nasehat, strategi yang diterapkan Kresna. Dalam beberapa peristiwa (lakon wayang) bisa kita jumpai akal Prabu Kresna yang apabila kita lihat dengan kacamata kemanusiaan, adalah suatu tindakan yang sebenarnya bersebelahan dengan rasa keadilan, kejujuran dan tanggung jawab secara kesatria. Hanya karena perbuatan itu dilakukan oleh pihak Pandawa, sehingga sisi2 buruk Sri Kresna tertutupi dan dibungkus rapi oleh idiom dan karakter para Pandawa yang dianggap sebagai para satria luhur, suci dan "kembanging jagad."
Contoh2 tindakan Sri Kresna yang terkesan, terlihat, atau memang curang sebagai botoh Pandawa :
- Antareja dan Baladewa
- Timpalan (Burisrawa Gugur)
- Gatotkaca Gugur (mengorbankan Gatotkaca demi mnyelamtkan Arjuna)
- Dorna Gugur (memerintahkan para Pandawa berbohong dengan mengatakan kalau Aswatama telah mati, padahal yang mati adalah Gajah Estitama)
- Memerintahkan Arjuna melepaskan panah ketika Karna sedang memperbiki roda keretanya
Itu hanylah beberapa contoh tindakan Sri Kresna yang terkesan curang. Pertannyaan yang muncul adalah, Prabu Kresna sebagai titisan Wisnu apakah punya kepentingan pribadi hingga ia rela melakukan perbuatan itu, dan mungkin melupakan jati dirinya sebagai pengayom jagad?Walaupun berpredikat titisan Wisnu, Sri Kresna adalah juga sebagai manusia biasa yang memiliki kekinginan dan hasrat manusiawi untuk berkuasa dan merasakan kejayaan serta kenikmatan duniawi. Bila kita tengok kebelakang ketika peristiwa matinya Kalabendana akibat kejujuranya menceritakan bahwa Abimanyu telah beristri sebelum mempersunting Dewi Siti Sendari.Dan kenapa pula Kresna membolehkan siti Sendari dinikahi Abimanyu yang jelas2 telah memiliki seorang istri Dewi Utari. Ataukah Sri Kresna telah mengetahui bahwa Abimanyu adalah satria "kandanging wahyu" yang kelak akan menurunkun wiji ratu di tanah jawa? Juga doktrin yang ia jalankan, yang memunculkan wacana hanyalah Abimanyu dan keturunanya Parikesit, anak Abimanyu dengan Utari, yang kelak berhak bertahta di Astina.Kenapa bukan Pancawala, dan anak turunya yang jelas2 anak dari Prabu Puntadewa raja Amarta.
Akhirnya dapat dilihat bagaimana suatu kepentingan atau tujuan selalu memerlukan proses, tergantung bagaimana proses itu dijalankan hingga suatu tujuan memiliki kesan. Mengenai kebenaran, seperti petuah Kresna pada Arjuna: “Ia yang lahir harus mati, ia yang mati harus lahir. Jangan gelisah, karena hukum ini memang tak terelakkan… yang benar selalu ada, yang tidak benar, tak pernah ada. Para bijak menyadari Kebenaran Mutlak di balik kedua-duanya”
Sumangga anggenipun nanggepi....Salam Karahayon......