Jagad kesenian kembali dihantui perasaan was-was, takut dan prehatin dengan kenyataan yang terjadi sat ini. Kebebasan berekspresi, bereksplorasi, dan berkreasi mengalami pembatasan-pembatasan dan hambatan yang dilakuakn oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan agama. Kebebasan yang menjadi dasar para seniman untuk menuangkan, menyuarakan dan mengkritisi keadaan disekitanya dengan balutan keindahan seni ternyata ditanggapi lain oleh sekelompok orang/organisasi yang entah karena alasan apa memprovokasi dan melarang sejumlah pentas seni. Sebagama halnya yang dialami oleh Mas Jlitheng Suparman, seniman wayang dari Solo, dengan Wayang Kampung Sebelah-nya, Dalam sebuah acara Pertunjukkan kesenian wayang yang digagas oleh
Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) “Sinar Pelangi” yang didirikan oleh Joko Kristanto warga Kampung Mojo Kelurahan Semanggi Pasar Kliwon-Solo
dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan pada hari jumat tanggal 27 Mei 2011 ini didukung oleh warga Mojo RT 06 dan RT 07 RW 05, ternyata dihentikan secara paksa oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan sebuah organisasi keagamaan tertentu. Bayang-bayang hambatan tersebut juga menghantui dan kembali dialami oleh Mas Jlitheng dengan WKS-nya yang akan pentas pada tanggal 18 Juni mendatang diindikasikan akan kembali diusik seperti pentas sebelumnya.
Ini sungguh memprihatinkan. Disaat bangsa ini tengah berjuang mengembalikan harta dan martabatnya, akibat kemerosotan diberbagai sektor kehidupan, baik politik, ekonomi, hukum dan lainya, seni budaya, khusunya wayang, sebagai satu-satunya aset bangsa yang masih bisa dibanggakan, ternyata nasibnya tidak begitu menggembirakan. Keberadaannya senantiasa dicurigai oleh sekelompok anak negeri yang beranggapan negative. Dibilang musyriklah, amoral, mesum, dsb. Ini anggapan yang berlebihan. Kalau kita toleh kebelakang, sebenarnya dunia wayang mempunyai andil besar dalam penyebaran agama Islam. Siapa yang tidak tahu, bagaimana para wali dulu menyebarkan agama Islam dengan media wayang.
Sungguh ironis....wayang yang didalamnya penuh dengan ajaran moral, estetika, budi pekerti dan nilai-nilai luhur dan humanis dikatakan musyrik atau apalah. Kalau kita mau toleran dan saling memahami, sesungguhnya seni, wayang khusunya, sangatlah seiring dan sejalan dengan agama. Walau memang dalam penyajiannya kadang terselip ungkapan2 yang menjurus kasar, porno, tapi pada dasarnya itu hanyalah bumbu penyedap sebuah pementasan agar lebih menarik. Dan kalau memang ada nilai2, ungkapan2 atau idiom2 dalam pewayangan yang mungkin menyinggung atau melukai perasaan seorang atau sekelompok orang, tidak harus ditanggapi dengan sebuah tindakan anarkis,dengan membubarkan acara pementasan seperti yang dialami Mas Jlitheng. Negara kita adalah negara demokrasi, yang menjunjung tinggi perbedaan. Seharusnya perbedaan persepsi itu bisa diselesaikan dengan saling membuka wawasan, tukar pikiran dan berdialog....karena hemat saya "agama tanpa seni adalah kering.....sebaliknya seni tanpa agama bisa menjurus kemaksiatan....Sumangga!!!