Cari Blog Ini

Sabtu, 11 Juni 2011

Wayang dan Agama, seiring dan sejalan....

 Jagad kesenian kembali dihantui perasaan was-was, takut dan prehatin dengan kenyataan yang terjadi sat ini. Kebebasan berekspresi, bereksplorasi, dan berkreasi mengalami pembatasan-pembatasan dan hambatan yang dilakuakn oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan agama. Kebebasan yang menjadi dasar para seniman untuk menuangkan, menyuarakan dan mengkritisi keadaan disekitanya dengan balutan keindahan seni ternyata ditanggapi lain oleh sekelompok orang/organisasi yang entah karena alasan apa memprovokasi dan melarang sejumlah pentas seni. Sebagama halnya yang dialami oleh Mas Jlitheng Suparman, seniman wayang dari Solo, dengan Wayang Kampung Sebelah-nya, Dalam sebuah acara Pertunjukkan kesenian wayang yang  digagas oleh Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) “Sinar Pelangi” yang didirikan oleh Joko Kristanto warga Kampung Mojo Kelurahan Semanggi Pasar Kliwon-Solo dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan pada hari jumat tanggal 27 Mei 2011 ini didukung oleh warga Mojo RT 06 dan RT 07 RW 05, ternyata dihentikan  secara paksa oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan sebuah organisasi keagamaan tertentu. Bayang-bayang hambatan tersebut juga menghantui dan kembali dialami oleh Mas Jlitheng dengan WKS-nya yang akan pentas pada tanggal 18 Juni mendatang diindikasikan akan kembali diusik seperti pentas sebelumnya.
Ini sungguh memprihatinkan. Disaat  bangsa ini tengah berjuang mengembalikan harta dan martabatnya, akibat kemerosotan diberbagai sektor kehidupan, baik politik, ekonomi, hukum dan lainya, seni budaya, khusunya wayang,  sebagai satu-satunya aset bangsa yang masih bisa dibanggakan, ternyata nasibnya  tidak begitu menggembirakan. Keberadaannya senantiasa dicurigai oleh sekelompok anak negeri yang beranggapan negative. Dibilang musyriklah, amoral, mesum, dsb. Ini anggapan yang berlebihan. Kalau kita toleh kebelakang, sebenarnya dunia wayang mempunyai andil besar dalam penyebaran agama Islam. Siapa yang tidak tahu, bagaimana para wali dulu menyebarkan agama Islam dengan media wayang.

Sungguh ironis....wayang yang didalamnya penuh dengan ajaran moral, estetika, budi pekerti dan nilai-nilai luhur dan humanis dikatakan musyrik atau apalah. Kalau kita mau toleran dan saling memahami, sesungguhnya seni, wayang khusunya, sangatlah seiring dan sejalan dengan agama. Walau memang dalam penyajiannya kadang terselip ungkapan2 yang menjurus kasar, porno, tapi pada dasarnya itu hanyalah bumbu penyedap sebuah pementasan agar lebih menarik. Dan kalau memang ada nilai2, ungkapan2 atau idiom2 dalam pewayangan yang mungkin menyinggung atau melukai perasaan seorang atau sekelompok orang, tidak harus ditanggapi dengan sebuah tindakan anarkis,dengan membubarkan acara pementasan seperti yang dialami Mas Jlitheng. Negara kita adalah negara demokrasi, yang menjunjung tinggi perbedaan. Seharusnya perbedaan persepsi itu bisa diselesaikan dengan saling membuka wawasan, tukar pikiran dan berdialog....karena hemat saya "agama tanpa seni adalah kering.....sebaliknya seni tanpa agama bisa menjurus kemaksiatan....Sumangga!!!


Rabu, 01 Juni 2011

Juni-Juli...bulanya para Dalang

Ki Lingga
Ki Seno Nugroho


Ki Geter

Ki Sri Mulyono

Ki Suharno

Ki Utoro

Sudah menjadi tradisi pada bulan juni-juli menjadi bulan yang dinanti-nanti oleh para dalang. Baik dalang senior maupun yunior.....Bisa dikatakan bulan ini adalah bintangnya bulan bagi para dalang. Bahkan dalam satu malam di wilayah Kab. Gunungkidul pernah terjadi pementasan wayang hampir di 60 titik tempat tersebar disemua kecamatan dan desa di gunungkidul. Pada bulan2 itu di wilayah Kab. Gunungkidul di tiap dusun dan desa memang sedang ramai diadakan acara merti desa, rasulan atau sedekah bumiIni adalah tradisi turun temurun. Dan hampir mayoritas semuanya diselenggarakan dengan mengadakan pertunjukan wayang sebagai medianya......Selamat buat para dalang.......