Cari Blog Ini

Rabu, 24 Agustus 2011

SENDHON SUKESI


Bumi Alengka bergolak
Sayembara Jambumangli
Satria gagah pideksa, digdaya sura tamtaha, sakti kalintang jayaning prang
Dengan bertepuk dada menaruhkan jiwa raganya demi sang Dewi Sukesi
Ini hanyalah kedok semata karena dibalik tingkahnya ada hasrat tersembunyi mencintai keponakanya sendiri
Banyak raja mati sia-sia
Alengka bergetar , keindahanya sirna berubah kedahsyatan yg menakutkan….

Dewi Sukesi, perawan elok cantik jelita putri Prabu Sumali
Raja raksasa yg berhati manusia
Laksana bunga teratai emas ditengah lautan darah
Dia tidak rela menyerahkan keperawanya pada satria, raja, atau siapa saja dg pertumpahan darah
Ia mendambakan titah yg mampu menerjemahkan ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu…
Apakah itu ajaran kasampurnan?
Apakah itu ajaran olah asmara yg menggairahkan?

Wisrawa….seorang brahmana dari kerajaan Lokapala
Ayah Prabu Danapati raja Lokapala…
Ia berkehendak menguraikan ajaran itu demi cintanya pada sang putra yg ingin melamar sang Dewi…

Akankah jagad raya menjadi tenang dan damai dengan wedaring ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu?
Ataukah jagad raya berguncang apabila salah dalam menafsirkan dan menjalankan laku ajaran tersebut?
Sebagaimana Wisarwa dan Sukesi yang gagal menghayati Sastrajendra karena keduanya masih diselimuti hawa nafsu…
Hingga melahirkan makhluk berhati iblis…Rahwana….

Sabtu, 20 Agustus 2011

DURMO

"DURMO"
Saya Sengkut,gumregut tumandang karya,
Ngudi mrih tan kawuri,
Memetri budaya,apan iku kagunan,
Nenggih wau Seni Jawi..
...Saya ngrembaka,
Rahayu kang pinanggih.

BAIT II:
Saya Wimbuh,jumbuh kalamun ginarap,
Rinasa dadyo manis,
Katiti Katata,pangolahing paglaran,
Mrih resep kang samya myarsi,
Rumesep ndriya,
Temah datan Mboseni.
Ki Geter Pramujiwidodo
 

Senin, 15 Agustus 2011

Pangkur Patalon

PANGKUR PATALON/PALARAN
Hambuko purwaning kandha
Angleluri seni budaya jawi
Kagunan kang adi luhung
... Gumlaring Ringgit Purwo
Dadyo srana,patuladan bebrayan gung
Surodiro jayaning rat
Lebur dening pangasti

Dhandanggula SUKRA KASIH

"DHANDANG GULA"
AMURWANI,lelangen saratri
Nenggih wau caraka budaya
SUKRAKASIH kang arane
Memetri budaya gung
...Dadyo endah ingkang winardi
Gegulang pedalangan
Seni adi luhung
Mrih ambabar suko rena
Rasa mulyo,memayu hayuning nagri
SESANTI RAHAYUA"

Selasa, 12 Juli 2011

Mengenal Wayang

WAYANG salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.

Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan In donesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.
Dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang.

Asal Usul
Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.
Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.
Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.
Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.
Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indo nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur nya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In dia, Walmiki. Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 – 1160).
Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawa yang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah per tunjukan wayang.
Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehis toric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indone sia halaman 987.
Kata `wayang’ diduga berasal dari kata `wewa yangan’, yang artinya bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak. Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga belum ada.
Untuk lebih menjawakan budaya wayang, sejak awal zaman Kerajaan Majapahit diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada Kitab Ramayana dan Mahabarata. Sejak saat itulah cerita cerita Panji; yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain. Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga. Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.
Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.
Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam. Sisilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa. Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem. yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar. Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem.
Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah. Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.


Sabtu, 11 Juni 2011

Wayang dan Agama, seiring dan sejalan....

 Jagad kesenian kembali dihantui perasaan was-was, takut dan prehatin dengan kenyataan yang terjadi sat ini. Kebebasan berekspresi, bereksplorasi, dan berkreasi mengalami pembatasan-pembatasan dan hambatan yang dilakuakn oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan agama. Kebebasan yang menjadi dasar para seniman untuk menuangkan, menyuarakan dan mengkritisi keadaan disekitanya dengan balutan keindahan seni ternyata ditanggapi lain oleh sekelompok orang/organisasi yang entah karena alasan apa memprovokasi dan melarang sejumlah pentas seni. Sebagama halnya yang dialami oleh Mas Jlitheng Suparman, seniman wayang dari Solo, dengan Wayang Kampung Sebelah-nya, Dalam sebuah acara Pertunjukkan kesenian wayang yang  digagas oleh Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) “Sinar Pelangi” yang didirikan oleh Joko Kristanto warga Kampung Mojo Kelurahan Semanggi Pasar Kliwon-Solo dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan pada hari jumat tanggal 27 Mei 2011 ini didukung oleh warga Mojo RT 06 dan RT 07 RW 05, ternyata dihentikan  secara paksa oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan sebuah organisasi keagamaan tertentu. Bayang-bayang hambatan tersebut juga menghantui dan kembali dialami oleh Mas Jlitheng dengan WKS-nya yang akan pentas pada tanggal 18 Juni mendatang diindikasikan akan kembali diusik seperti pentas sebelumnya.
Ini sungguh memprihatinkan. Disaat  bangsa ini tengah berjuang mengembalikan harta dan martabatnya, akibat kemerosotan diberbagai sektor kehidupan, baik politik, ekonomi, hukum dan lainya, seni budaya, khusunya wayang,  sebagai satu-satunya aset bangsa yang masih bisa dibanggakan, ternyata nasibnya  tidak begitu menggembirakan. Keberadaannya senantiasa dicurigai oleh sekelompok anak negeri yang beranggapan negative. Dibilang musyriklah, amoral, mesum, dsb. Ini anggapan yang berlebihan. Kalau kita toleh kebelakang, sebenarnya dunia wayang mempunyai andil besar dalam penyebaran agama Islam. Siapa yang tidak tahu, bagaimana para wali dulu menyebarkan agama Islam dengan media wayang.

Sungguh ironis....wayang yang didalamnya penuh dengan ajaran moral, estetika, budi pekerti dan nilai-nilai luhur dan humanis dikatakan musyrik atau apalah. Kalau kita mau toleran dan saling memahami, sesungguhnya seni, wayang khusunya, sangatlah seiring dan sejalan dengan agama. Walau memang dalam penyajiannya kadang terselip ungkapan2 yang menjurus kasar, porno, tapi pada dasarnya itu hanyalah bumbu penyedap sebuah pementasan agar lebih menarik. Dan kalau memang ada nilai2, ungkapan2 atau idiom2 dalam pewayangan yang mungkin menyinggung atau melukai perasaan seorang atau sekelompok orang, tidak harus ditanggapi dengan sebuah tindakan anarkis,dengan membubarkan acara pementasan seperti yang dialami Mas Jlitheng. Negara kita adalah negara demokrasi, yang menjunjung tinggi perbedaan. Seharusnya perbedaan persepsi itu bisa diselesaikan dengan saling membuka wawasan, tukar pikiran dan berdialog....karena hemat saya "agama tanpa seni adalah kering.....sebaliknya seni tanpa agama bisa menjurus kemaksiatan....Sumangga!!!


Rabu, 01 Juni 2011

Juni-Juli...bulanya para Dalang

Ki Lingga
Ki Seno Nugroho


Ki Geter

Ki Sri Mulyono

Ki Suharno

Ki Utoro

Sudah menjadi tradisi pada bulan juni-juli menjadi bulan yang dinanti-nanti oleh para dalang. Baik dalang senior maupun yunior.....Bisa dikatakan bulan ini adalah bintangnya bulan bagi para dalang. Bahkan dalam satu malam di wilayah Kab. Gunungkidul pernah terjadi pementasan wayang hampir di 60 titik tempat tersebar disemua kecamatan dan desa di gunungkidul. Pada bulan2 itu di wilayah Kab. Gunungkidul di tiap dusun dan desa memang sedang ramai diadakan acara merti desa, rasulan atau sedekah bumiIni adalah tradisi turun temurun. Dan hampir mayoritas semuanya diselenggarakan dengan mengadakan pertunjukan wayang sebagai medianya......Selamat buat para dalang.......